Minggu 9 Maret 2014, pukul 19.55 saya baru saja tiba
dirumah setelah menyaksikan pertandingan sepakbola di Stadion Utama
Gelora Bung Karno, antara tim yang sudah saya dukung beberapa tahun
terakhir, Persija Jakarta menghadapi tim tamu dari Palembang, Sriwijaya
FC.
Hasil akhir memang kurang begitu meyakinkan, setelah Macan Kemayoran
berhasil ditahan imbang oleh Laskar Wong Kito 1-1, tapi kali ini saya
tidak ingin membahas jalannya pertandingan seperti yang biasa saya tulis
sebelumnya.
Yap! Setelah beberes dan waktu sudah senggang, dengan smartphone saya
buka akun berkicau 140 karakter yang saya miliki, ada yang menarik
perhatian kala melihat update dari salah satu akun resmi institusi pengamanan yang mengabarkan adanya tindak kriminal yang dilakukan
segelintir supporter terhadap sebuah kendaraan umum dibilangan Sudirman.
Setelah saya coba scrool akun tersebut, terdapatlah beberapa update yang
menggambarkan situasi mulai dari beberapa jam sebelum hingga sesuai
pertandingan, dan yang sedikit saya agak terkejut hampir semuanya berbau
negatif walaupun mungkin bermaksud bersikap preventif dan tidak
mengarah kepada satu golongan supporter (dalam hal ini The Jakmania).
Tetapi tetap saja, karena semua akun twitter yang menjadi pengikut akun
berseragam khas coklat tersebut baik yang mengerti ataupun tidak sama sekali mengikuti perkembangan sepakbola sudah pasti mengarahkan "ocehan" kepada suporter yang timnya sore itu bertanding (The Jakmania).
Bukan bermaksud melakukan pembelaan, banyak hal-hal menarik dan positif
yang sudah selayaknya dilakukan supporter kala mendukung timnya
bertanding dilakukan oleh The Jakmania sore itu, menyanyikan yel-yel
dukungan tiada henti, membuat koreografi di tribun, bahkan saya mencatat
dipertandingan ini, sama sekali tidak ada nyanyian berbau rasis atau
menghujat siapapun. (Mohon koreksi jika salah).
Tidak ingin membandingkan dengan sorotan yang didapatkan supporter lain
di kota-kota diluar Jakarta, tapi inilah fakta yang harus kami hadapi
setidaknya saya pribadi, ketika sebuah kegiatan yang cenderung negatif
menjadi barang laku untuk dipublish, ketimbang sesuatu peristiwa yang
terlihat baik namun tidak terekam dan tersebar sama imbangnya dengan hal
yang kurang baik.
Selama lambang monas didada masih membalut pakaian 11 pemain terbaik
yang dimiliki, maka sudah selayaknya saya, aku, lo, gue, kami, kita akan
terus meneriakkan yel-yel kebanggaan tim yang bermarkas di Jakarta. Ibukota negara yang konon lebih kejam daripada Ibu tiri. Kota yang sering
di caci maki karena kemacetan, namun tanpa mereka sadari termasuk bagian
penyumbang kemacetan itu sendiri. Kota dengan segala sumpah serapah
orang-orang yang justru mencari penghidupan disini. Kota yang akan
selalu saya pribadi banggakan lahir dan mungkin nanti mati disini.
Selesai....
Itulah media dimana keburukan adalah sumber rezeki dibandingkan dengan berita positif, dan yang gue tau beberapa surat kabar skala nasional baik cetak atau online hampir semua admin, wartawan, dan editornya berasal dari daerah "tetangga" (Walaupun tidak semua) tapi itulah yang terjadi... :) yang ngeluh macet bukan anak jakarta kak zani :D
BalasHapus