Kau tau aku mencintaimu..
Kau pun tau merindunya aku!
Aku rasa kamu tak perlu ragu itu, demikian pula untuk diriku
Apakah hanya cinta dan rindu yang membuat kita bisa bertahan?
Menghantam
semua prasangka buruk, ego, cemburu diantara kita yang mewarnai
lembaran kisah ini
Bertahan, sampai kapan?
Aku sungguh enggan menjawab
Menurutku semua ini tidak akan berujung dengan jawaban
Sampai nanti, ada kita disini, bukan kamu disana, aku disini
Harusnya Ku Melepaskan(mu)...
Sejak saat itu, saat kau memutuskan meneruskan mimpimu, yang dikemudian
hari memang aku mengaminkan menjadi bagian mimpi kita, tidak di rumah ini, tapi
disana. Jauh dan aku tersadar sangat sulit untuk memelukmu seperti
biasa.
Sepakat Saling Menguatkan..
Tiga kata itu, yang aku dan kamu saling peluk erat meletakan tepat
dihati, menjalani semua ini, melepas kepergianmu dalam kondisi belum
satu caturwulan kita bersama dan harus terpisah jarak untuk waktu yang
tidak sebentar, 180 hari. "Masih belum melewati rekor bang toyib sih
memang"
Tak mungkin menyalahkan waktu.
Sehari... Tiga hari.. Seminggu.. Dua
Minggu.. Sampai 30 hari pertama berhasil mulus kita lalui seperti jalan
tol yang tidak memiliki hambatan. Melalui smartphone kita bertukar
kabar, melepas rindu baik melalui chating, maupun telepon, bahkan tidak
jarang skype kita gunakan untuk bertegur sapa. Perasaan aku semakin kuat
dan yakin, aku bisa, gak cuma aku, tapi kamu pun bisa, iya kita bisa!
Komunikasi memburuk.
Hanya selang berapa lama, hal yang selama ini aku hanya dengar dari
cerita pengalaman teman-temanku atau dari buku yang aku baca, mengenai
persoalan terbesar cinta dalam jarak, akhirnya menyambangiku.
Gelap
mata kerap terjadi, kesibukan hingga kelelahan yang mendera dari
aktifitas keseharian memperburuk keadaan. Hal yang seharusnya menjadi
sepele kala di social media malah menjadi senjata untuk saling meragukan
kesetiaan.
Akhiri atau teruskan?
Hanya kita yang tau kemana hembusan angin berbalut nafas cinta
melabuhkan cerita. Meneruskan laju perahu ini hingga bersandar di
dermaga, atau membiarkan perahu karam lalu tenggelam.
Selesai
-Balada Penulis Amatir-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar