Sabtu, 10 Agustus 2013

Harusnya Ku Melepaskan(mu)...

Kau tau aku mencintaimu..
Kau pun tau merindunya aku!
Aku rasa kamu tak perlu ragu itu, demikian pula untuk diriku
Apakah hanya cinta dan rindu yang membuat kita bisa bertahan?
Menghantam semua prasangka buruk, ego, cemburu diantara kita yang mewarnai lembaran kisah ini

Bertahan, sampai kapan?
Aku sungguh enggan menjawab
Menurutku semua ini tidak akan berujung dengan jawaban
Sampai nanti, ada kita disini, bukan kamu disana, aku disini

Harusnya Ku Melepaskan(mu)...
Sejak saat itu, saat kau memutuskan meneruskan mimpimu, yang dikemudian hari memang aku mengaminkan menjadi bagian mimpi kita, tidak di rumah ini, tapi disana. Jauh dan aku tersadar sangat sulit untuk memelukmu seperti biasa.

Sepakat Saling Menguatkan..
Tiga kata itu, yang aku dan kamu saling peluk erat meletakan tepat dihati, menjalani semua ini, melepas kepergianmu dalam kondisi belum satu caturwulan kita bersama dan harus terpisah jarak untuk waktu yang tidak sebentar, 180 hari. "Masih belum melewati rekor bang toyib sih memang"

Tak mungkin menyalahkan waktu.
Sehari... Tiga hari.. Seminggu.. Dua Minggu.. Sampai 30 hari pertama berhasil mulus kita lalui seperti jalan tol yang tidak memiliki hambatan. Melalui smartphone kita bertukar kabar, melepas rindu baik melalui chating, maupun telepon, bahkan tidak jarang skype kita gunakan untuk bertegur sapa. Perasaan aku semakin kuat dan yakin, aku bisa, gak cuma aku, tapi kamu pun bisa, iya kita bisa!

Komunikasi memburuk.
Hanya selang berapa lama, hal yang selama ini aku hanya dengar dari cerita pengalaman teman-temanku atau dari buku yang aku baca, mengenai persoalan terbesar cinta dalam jarak, akhirnya menyambangiku.
Gelap mata kerap terjadi, kesibukan hingga kelelahan yang mendera dari aktifitas keseharian memperburuk keadaan. Hal yang seharusnya menjadi sepele kala di social media malah menjadi senjata untuk saling meragukan kesetiaan.

Akhiri atau teruskan?
Hanya kita yang tau kemana hembusan angin berbalut nafas cinta melabuhkan cerita. Meneruskan laju perahu ini hingga bersandar di dermaga, atau membiarkan perahu karam lalu tenggelam.

Selesai

-Balada Penulis Amatir-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar