Hey, kamu ! Iya kamu, kamu yang hari ini sudah kembali ke kota asalmu,
menjalani aktifitasmu sehari-hari setelah seminggu berada dikotaku.
Bahagia loh bisa bertemu kamu, bertatap muka, bercerita banyak tentang
hubungan kita yang dulu, iya hubungan di masa lalu, yang saat ini sudah
terkandaskan.
Aku pun menyadari, tujuan utama kamu menyambangi kota dimana aku
menghabiskan waktu aku selama ini untuk menengok nenekmu. Tidak
pernah terbesit di fikiran aku, kamu singgah di kota ini untuk
menemuiku, mantan kekasihmu, mantan yang mungkin sudah tidak berarti
dihidupmu dan tidak ada di hatimu.
Sangat jelas kenapa aku berfikir seperti itu, 1 tahun 5 bulan hubungan
ini berakhir sudah loh. Iya aku masih ingat, aku yakin kamu pun
merasakan hal yang sama. Selama itu juga disana kamu memiliki seorang
wanita, pengganti aku disisi kamu, perempuan yang lebih dari aku, yang
bisa selalu dekat sama kamu, yang jika kamu butuhin langsung bisa ada di
samping kamu, gak seperti aku yang tidak bisa berbuat apa-apa, karena
ribuan mil jarak yang memisahkan kita. Aku bukan minder, ataupun
merendah namun memang beginlah adanya.
Hari itu, awal pertemuan kita setelah setahun lebih kamu dan aku tidak
bertatap muka. Bingung, agak takut salah orang, sempat terlintas
perubahan kamu yang mungkin nantinya aku tak mengenalimu. Namun setelah
bertemu di tempat pertama kali kita berjumpa 3 tahun lalu, tak ada
perubahan yang berarti, masih sama seperti dulu.
Tak lama kemudian, kita memutuskan untuk bergerak melambat, menuju
tempat kenangan, lokasi yang mau tak mau membawaku ke memori masa
lampau. Di dalam keheningan sesaat, kamu mengutarakan semua "dosa" yang pernah
kamu perbuat, maaf telah menduakan cinta, janji yang selalu kamu
ingkari. Tanpa tersadar telapak tangan ini kamu genggam erat, bagai anak
bayi yang hendak menyusui muka kamu terpampang jelas penuh iba, kosong
nanar, dan berulang kali mengucapkan kata maaf.
Karena tak ingin larut dalam suasana yang belum bisa sepenuhnya aku
kendalikan, aku merespon semua ucapanmu dengan rilex. Kemudian dengan
lancar bibir ini bersuara, "Tanpa kamu meminta maaf aku udah maafin kok,
aku selama ini bukan gak mau maafin kamu, aku cuma belum bisa melupakan
kejadian dulu, sakitnya aku, sangat membuatku hancur"
Sepersekian detik nafas aku tersengal, ketika kamu dengan lancar
membeberkan alasan kamu selingkuh, walaupun sebenernya aku tidak ingin
lagi luka yang sudah mulai kering ini kembali menganga. Jarak.. Pelan kamu berucap, mata aku seperti terhipnotis, memandang kamu
lurus memperhatikan dengan seksama. Sejenak kamu menarik nafas "Aku gak
bisa dengan jarak diantara kita, aku ngerasa capek, selama kita
berpacaran hanya aku yang mengunjungimu, walaupun aku ngerti kenapa kamu
gak bisa ketempat aku, gak pernah nyalahin itu."
Bukan karena perasaan, tidak ada sedikitpun faktor perasaan waktu aku
ambil keputusan itu. Enggak perlu aku sebutin kamu pasti tau kok
bagaimana perasaan aku ke kamu, masih sama tak pernah berbeda. Mendengar pernyataan kamu itu aku sempat terdiam kaku, aku coba untuk
mencairkan suasana agar tidak terlalu sendu, aku gak mau pertemuan ini
dihiasi air mata. Kita ketemu buat seneng-seneng loh bukan buat sedih
berujung drama.
Di ujung pertemuan, kamu menatap mata aku tajam, memegang dagu aku untuk
sesaat kemudian berkata "Berapa tahun lagi ya kita bisa bertemu? Tanpa
berucap aku hanya tersenyum tanpa harapan, sambil berlalu meninggalkan
tempat itu tanpa pernah tahu kapan akan kembali lagi.
Hey Rian, iya Rian Eka Pramestu, terimakasih untuk pertemuan kemarin,
makasih juga untuk canda tawanya, kalopun itu mungkin jadi terakhir kali
kita bertemu, tak mengapa. Soal permintaan maaf kemarin, aku udah maafin semuanya. Kamu perlu tahu
satu hal, sudah aku pastikan dalam hati ini, kalo kita memang sulit
untuk bersatu lagi. kita sama-sama bahagia ngejalanin kehidupan
masing-masing. Walau aku gak sama kamu, jangan pernah lupain aku ya,
Putri Rakeswari mantan kamu yang cantik ini.
Bahagia buat kita berdua, bahagia untuk kehidupan kita. Bukan karena
perasaan yang membuat hubungan ini berhenti. Tapi hanya sebuah kata
sedehana namun menakutkan bagi semua yang menjalankan LDR.. Jarak..
"Yakin ini jalan terbaik walau kita tak lagi berdua, tak usah ditangisi,
tak perlu disesali, yakin kita akan bahagia walau kita tak lagi
bersama, karena hanya luka jika kita bersama yan,"
Seusai pertemuan itu, kamu mengirimkan sebuah pesan singkat, "good luck
ya put, get the best for you, and save your self’. Gak ngerti harus
bales atau enggak sms kamu, yang pasti aku akan ngejalanin, "cause I’m
still looking up yan"
“Yang gak saling terikat dalam suatu hubungan pacaran belum tentu tidak
saling sayang, dan yang saling terikat pacaran pun belum tentu juga
saling menyayangi. Salah satu cara kita saling menjaga adalah dengan
doa, itu lebih dari cukup, jika untuk memilikinya kita tidak mungkin.
Berjiwa besarlah untuk menerima keadaan ini.“
Terakhir.. Aku ingin katakan, sukses buat kedepannya, untuk kehidupan,
hubungan percintaan kita dengan yang lain nantinya. Semoga kita memiliki
pasangan terbaik. Kita bisa jadikan cerita ini sebuah kenangan yang tak
terlupa. Selalu ada hal baik yang bisa dipetik dari kisah yang pernah kita lalui,
sebuah proses pembelajaran. Bagi pelaku LDR semoga cerita ini menjadi
sesuatu yang berguna. Dari aku untuk kamu, untuk kisah kita yang sudah
berlalu.
*Putri Rakeswari*
Selesai..
-Balada Penulis Amatir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar